Pages

2 comments

hilang

losing all the faith, all the tears and all the words as well.
niat nya ini akan menjadi tulisan panjang berisi semua kenangan yang akan menggiring siapapun dalam tangisan.
but i'm losing those all.

jadi cukup begini saja. tulisan panjang gagal tertuliskan. tangisan pun gagal tercurahkan.

0 comments

langkung

kalau ada sepotong kata dengan kadar ketulusan lebih tinggi dari 'terimakasih'
saya ucapkan itu di sini. subuh ini.
sambil kepala tertunduk memujamu dan tangan terbuka mengagungkannmu.
hidup adalah kado terindah yang kau sertakan saat menghembuskan roh dalam ragaku yang masih selayu embun.
setiap tapak kecilnya selalu mebuatku terpana, tuhan.
tak ada yang lebih membius dari hela nafas kami saat kelelahan.
tak ada yang lebih berirama dari degup jantung kami saat berlari mengejar mimpi.
tak pernah ada yang lebih menggetarkan hati selain tetesan air mata yang mengalir rela.

langkung luhur ti 'nuhun' yaa pangeran...

kalau saja ada sepenggal kata dengan muatan pasrah yang lebih mendalam dari 'maaf'
saya pinta itu di sini. di atas sajadah lusuh ini.
sambil mulut dan jiwa tak henti menyebut namamu dan hati yang tak lagi malu-malu.
cinta adalah bingkisan paling indah yang kau iringkan saat hadirnya tubuh berbalut rapuh.
kehadirannya tak pernah membuatku berhenti mencandu, tuhan.
sampai sempat-sempatnya aku berpaling darimu.
menggantikan sosokmu dengan sosok cinta semu yang berbentuk dan bertubuh.
menggeser cinta padamu dengan cinta pada ini dan itu.
padahal kau selalu menjadi tuannya cinta.
satu-satunya yang pantas disandingkan dengan cinta yang utuh.

langkung rela ti 'hampura yaaa gusti..

0 comments

ja.

Saya hanya berterimakasih pada kesesatan yang kau selalu lampirkan.
Dalam setiap lembaran detik yang tak sengaja mengiriskan waktu kita berdua.
Bahkan hanya secercah dunia maya tau seliweran gelombang provider handphone yang menjadi perantara.
Tapi sangat cukup membuat saya tertegun dalam liku mu. Semua kesesatanmu.
Dan besok apa lagi (?)
Saya hanya meminta tuhan tidak kapok membuat saya kelimpungan dalam kelokan jalan. bersamamu.
Tersesat bergandengan.
Dengan degupan jantung yang mengalirkan kecemasan yang serupa.
dan jalanan yang lagi-lagi tak sama.
sedikit berbisik akhirnya kita bertanya
"rumah kita sebenarnya dimana?"

0 comments

61 hari mati suri.

Tulisan-tulisanmu tidak akan pernah terbaca orang banyak.

Kalaupun iya, harus ada pertanyaan tambahan yang muncul disana. Apakah memang itu yang kamu harapkan? Mengarang sebuah cerita mendayu yang diselingi kejadian manis pengundang rona merah di pipi lalu menjualnya pada penerbit megah, mengabarkan pada kerabat dan saudara dan ‘memerintah’ mereka membeli secepatnya untuk selanjutnya menunggu ‘compliment’ berupa pujian dan ucapan ‘tulisan yang bagus sekali, gak nyangka bisa nulis’

Sekali lagi apakah itu yang diharapkan?
Kamu menjawab secepatnya walau tanpa suara, hatimu menggeleng. Selama ini tulisanmu hanya jejak perbincanganmu dengan cermin. Mereka hanya temanmu saat sendiri di rumah dan pikiran berkecamuk diwarnai percikan-percikan drama kecil disana. Siapa yang perlu untuk menjual teman?

Di usiamu, kamu masih percaya bahwa sesuatu apapun yang ‘terlalu’ digantungi label rupiah selamanya tidak akan menjadi berkah. Keringat dan perasan pikiranmu tak lagi begitu berarti jika diiringi harapan rekening tabungan menggembung atau predikat ‘hebat’ yang disandangkan entah oleh siapa.

Jadi sekarang langkah selanjutnya adalah: menulis saja. Dengan kata ‘saja’ yang digarisbawahi dan dicetak tebal.

Meskipun tulisan-tulisanmu teronggok dalam blog yang pengunjungnya tak juga bertambah. Meskipun tak menjadi incaran penerbit besar ataupun menang dalam kompetisi dan ditepuktangani banyak orang. Sekali lagi dan tanpa suara hatimu merindukan diskusi kamu dan tulisanmu, ada dorongan cukup kuat untuk kembali di meja perbincangan itu.

Menulis saja. Ya?

0 comments

dua nol satu nol

2010?
silahkan masuk.....maap rumahnya berantakan
mari saya siapkan teh hangat dan kue kering dulu.
mudah-mudahan betah ya kawan.
biar senyum menghiasimu
biar tawa kau gelak-kan sewaktu-waktu
lalu kau bisa bersenda gurau dan berseloroh tentang obrolan-obrolan ringan yang membuat kita duduk terpaku.

kursinya sudah empuk?
tehnya suah mengepul?
kue-kuenya sudah terkumpul?
mari mulai berbincang.......kawan

0 comments

dan akhirnya itulah konklusinya...............
2 atau 3 hari lagi.
malah begitu takut untuk menyebutkan angka pasti.
lalu ada apa nanti?
saya hanya memberinya cukup waktu untuk menyusun ucapan selamat tinggal dengan lebih cantik.

1 comments

lilin pertama


kalau saya sempat mungkin akan saya buatkan brownies kecil manis berhias satu buah lilin.
satu saja.
dan kartu selamat ulangtaun yang berisi ribuan barisan doa.
tidak lupa dengan pengharapan-pengharapan besar juga rasa syukur yang tak akan ada habisnya.

terimakasih pada yang sempat membaca, selalu membaca dan akan membaca.
terimakasih pada setiap kesempatan kecil yang anda semua suguhkan lewat komentar ataupun hanya selewat kerlingan mata.

tahun pertama terlewati, kamu masih mencoba berdiri sambil berpegangan pada pinggir lemari.
cepat besar ya..cepat berlari sampai tak bisa lagi disejajari.

satu tahun penuh kontemplasi berharga.
juga terimakasih pada tuhan dan semua mahluknya baik hidup ataupun tidak yang selalu menggiring saya kedepan laptop dan membiarkan jari ini menari disana.


[agak terlambat 5 hari..hihi]
gambar dipinjam dari: http://glassaple.deviantart.com/art/Birthday-35747075

3 comments

demi..

Demi tuhan
Saya ingin mencaci maki kamu sampai batas gila. Sampai buta saja pada semua norma.

Esoknya….
Demi tuhan
Saya ingin mendekap kamu sampai hilang akal. Sampai kebal saja pada semua pegal.

Petangnya…
Demi tuhan
Saya ingin kamu pergi sampai batas alam. Sampai hilang saja kamu bersama setan.

Dini harinya...
Demi tuhan
Saya ingin kamu ada sampai melebur bersama. Sampai kita berdua menjadi satu jiwa.

0 comments

benci

Ini perkataan saya untuk saya ‘masa depan’. Masa depan bukan artinya 10-20 taun kedepan. Tapi untuk saya yang ada di depan setelah saya selesai menulis ini, mungkin hanya berjarak 5 menit atau 20 detik. Saya sengaja menuliskan untuk saya masa depan untuk mengingatan. Memori mu cukup parah. Jadi daripada hilang di dunia angan yang antah berantah saya tuliskan saja.

Kamu saat menulis ini sedang mengalami kebencian. Aura mu mungkin sedang berwarna merah tua bercampur abu yang lebih cenderung disebut hitam. Tirai kamarmu pun ditutup rapat. Kasian kamu, berusaha mencari tempat sembunyi paling aman. Tapi nihil. karena kamu memang tidak tahu harus sembunyi dari apa. Sinar matahari yang jarang-jarang muncul di November siang terpaksa kamu angkuhi. Udara yang masih bersih hasil siraman hujan kemarin malam pun kamu acuhkan. Kamu lebih memilih bergumul degan perputaran udara yang itu-itu saja.

Saat menulis ini kamu sedang memendam kebencian. Lalu kamu berpikir…kepada apa kebencian mu ini sebenarnya tertuju?

Kepada keadaan. Sebentar…sepertinya bukan. Beberapa hari ini kamu memang sedang terkurung dalam kemurungan. The world is not on your side. Tapi keadaan seperti ini sudah begitu akrab, tidak cukup alasan bagimu untuk membencinya. Kamu sudah banyak berlatih tentang melangkah gagah, jadi tenang saja wahai keadaan, kamu masih ada di posisi aman.

Kepada takdir. bah..bahkan sampai sekarang pun kamu masih kesulitan mengeja kata itu. Tidak mungkin kamu membenci sesuatu yang tidak kamu kenal pasti. Lagi pula kamu pernah bersepakat dengan dirimu sendiri untuk menghidupi jalan kehidupan apapun itu, takdir apapun yang menghadang di depan. Jadi kamu tidak mungkin membenci apa yang sudah kamu sepakati untuk diakrabi.

Kepada cinta. Ini lagi..kata sakti ini lagi. Bukan bukan..kamu tidak benci pada cinta. Ini kata yang teramat sangat sacral. Kamu bisa terkutuk sampai mati tanpa cinta. Jangan sampai. Itu yang kamu takutkan selama ini. Lagi pula kamu selama ini menjadi salah satu manusia penuh drama, yang menghadirkan cinta pada setiap episodenya, kamu terlalu cinta pada cinta, jadi tak mungkin kamu membencinya.

Kepada manusia. Bisa repot. Manusia ada bermilyar-milyar. Atau paling tidak ada ribuan yang kamu bisa lihat langsung di depan mata sepertinya kamu akan menjadi gila kalau nekat membeci mereka. Jangan merepotkan diri sendiri. Kebencian yang kamu pendam ini sudah lumayan membuat sabtu siangmu menjadi repot, repot-repot menyendiri dalam kamar, repot-repot menolak acara kumpul dengan teman-teman, repot-repot tidak makan dan uring-uringan. Jadi kamu tidak mungkin membenci manusia-manusia. Terlalu ribet, urusannya banyak.

Kepada tuhan. 100% kamu keliru. Mana mungkin kamu bisa benci pada tuhan. kamu ingat saat malam terlalu dingin kamu meminta kehangatan pada siapa. Kamu ingat saat angin terlalu kencang kamu minta penghalang pada siapa, saat badai terlalu mengamuk kamu berlindung pada siapa. Jelas tidak mungkin kamu membencinya. Dia itu salah satu tujuan sekaligus titik terang. Mana mungkin kamu mematikan satu-satunya titik yang selalu terang. mana mungkin kamu membenci figur sejati bernama tuhan.

Lalu pada siapa? Kamu masa depan pasti bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dibenci setengah mati oleh kamu masa lampau.

Lucunya kamu justru tidak tahu. Kamu terlalu sibuk membenci sampai kamu lupa apa sebenarnya yang kamu benci. Aneh ya? Tidak apa-apa. Bersibuk sajalah membenci. Jadi manusia, dalam satu harinya toh harus juga merasakan ini. Merasakan aura yang sama hitamnya seperti bayangan. Sehingga tubuh kamu terbenam dalam gelap. Merasakan gelap untuk benar-benar menghargai terang. merasa terpuruk agar suatu saat tahu benar caranya berdiri.

Silahkan bergelap-gelap. Silahkan berhitam-hitam. Bersukur saja masih ada persaan benci yang masih bisa kamu singgahi.

1 comments

puisi(??) hujan

pohon jambu sedang mandi pagi.
lalu genting juga, lalu angkot juga, lalu batu kerikil itu juga.
kodok malah bukan lagi sedang mandi, dia sedang jumpalitan tertawa riang sambil berenang di sawah.
lalu ular juga, belut juga, lalu kotoran itu juga.
untungnya saya bukan hanya sendiri yang malas mandi pagi atau berenang pagi-pagi.
ada nyamuk itu, ada kucing kampung itu, lalu ada jemuran itu juga.

sekian.
assalamualaikum warohmatulohi wabarokaaaaaatuh.