Pages

percabangan

Dua jalan setapak terbentang dihadapannya.
Kiri. Menuju kota.menuju jutaan lampu penerangan. Menuju keramaian dimana kerabat menunggu untuk dikunjungi. Dimana orang-orang terdekatnya menunggu untuk menyayangi. terdapat pasar dimana semua kebutuhan tersedia. Dia tinggal tunjuk lalu semua terpenuhi. Mulai dari barang paling sederhana. Sampai barang paling mewah. Ada bising suara jalan, suara obrolan teman, suara tawa kesenangan.
Tapi jika ia memilih berada disitu matanya akan terus mencari sesuatu yang tidak kasat mata. Dirinya akan menunduk dalam dan bertanya apa yang hilang. Berulang-ulang.

Kanan. Menuju sebuah pantai sepi. Yang ada hanyalah pencahayaan dari api. Sejati. yang ada hanya gemuruh ombak. alami. Yang ada hanya kicau burung hutan. sesekali. Yang ada hanya buih air yang menyapa tepi daratan. Yang ada hanya dia. Terbaring di hamparan pasir berwarna sama. Dalam sebuah ketenangan jiwa yang tidak bisa ia temukan dalam pasar dikota sana.
Yang ada hanya dia. Mendengar dirinya. Memahami pemikirannya. Dalam hening yang ia suka

Dua jalan setapak terbentang dihadapanya.
Dia diam. Memilih untuk tidak memilih. Kedua benih jiwanya terbagi rata untuk kedua cabang. Ingin bergelut dalam sibuknya kota sekaligus ingin menjadi pertapa beralaskan pasir hangat saat matanya terus menatap mentari yang pergi sebentar. Berpamitan.
Dia diam. Memutuskan untuk terus dilema dalam dua percabangan.

btemplates

2 comments:

Joni-Joni-Joni mengatakan...

hm bingung seperti saya yng sedang bingung mau meningakan jejak seperti apa hehehehe

suryaden mengatakan...

saya suka sekali yang bercabang-cabang
bisa buat perindang sih... kekekeke